No Kata Baper untuk Kecerdasan Emosi

Mengenali emosi
No Baper!
eh No kata Baper!
Sampai sekarang saya masih belum ngeh dan setuju penggunaan kata baper.
Baper (bawa perasaan) malah menurut saya mengaburkan dalam identifkasi rasa/emosi. Jadi gak jelas. Padahal ketika seseorang sedang bermasalah secara psikologis, kemampuan mengidentifikasi rasa itu bagian dari solusi. Mengenali emosi juga bagian Kecerdasan Emosional untuk pengendalian diri.
DC Facial Emotions 300x210 No Kata Baper untuk Kecerdasan Emosi

Mengenali Emosi.
Gbr. Credit: dreemhouse.com.au

Misal, ada orang yang kena macet di jalan, lalu dia bilang “idih gimana sih ini gak ada polisi yang ngatur apah jadi baper nih gue! pengen ngamuk”
Padahal dia kesel, marah, ditelusuri lagi sebenarnya kecewa, ditelusuri lagi sebenarnya adalah takut kalau macet nanti bisa telat. Ditelisik lagi ternyata dia akan merasa malu jika telat karena nanti akan jadi perhatian orang.
Mengupas inti emosi ibarat mengupas bawang merah, lapis demi lapis akan ketemu intinya.
Nah, ketika sudah ketemu inti dari emosi yang muncul dari respon tadi maka seseorang itu lebih bisa sadar dan mengendalikan rasa-nya. Solusi berikutnya setelah mengenali inti dari rasa yang muncul adalah menerima emosi itu.
Apalagi untuk anak kecil, memberikan pendidikan mengenali emosi akan berguna baginya dalam pengendalian diri.
Contoh lain, seorang ibu melihat anaknya udah SD kok tantrum melempar tasnya, “kamu kenapa sayang, baper yah..?! (wkwkwk..gak mungkin lah yah ada ibu (segaul2nya) nanya gitu..fiksi ini fiksi.. :p
[Rewind]…
“Kamu kenapa sayang, apa yang kamu rasakan?” sambil mengelus dan mencoba memeluk anaknya.
“aku kesel!”
“Oh kakak merasa kesel ? (Ibunya berusaha mengubah susunan kalimatnya agar si anak tidak merasa dirinya=kesel atau dirinya=emosi itu. Lalu dikonfirmasi lagi sebagai tanda ibu simpati dan memahami perasaan anak.)
Coba deh ceritain ke mama” (antusias fokus ke anak)
“aku kesel sama si X ! masa tadi ade pas pelajaran olahraga gak bisa roll depan roll belakang masih menceng2 gitu diketawain!”
“Diketawain sama siapa kak?”
“sama temen2 tapi si X yang nduluin trus paling kenceng! ihh nyebeeeliin..awass nanti!”
“Oh..gitu ya.. kalau perasaan kakak pas gak bisa roll depan belakang gimana?”
“Sedih mahh..huhuhu” ibunya merangkulnya
“Kakak kecewa yah gak bisa?”
“He ehh..”
“sama merasa apalagi?”
“malu mahhh..yang lain bisaaa…!!”
“oh ya..mama ngerti..jadi kakak merasa sedih dan malu jadi kesel ya sama si X?” (cari konfirmasi dan pengakuan rasa)
“iya mahh..”
“ya..mama ngerti..mana bagian tubuh kakak yang gak nyaman kalau inget kejadian tadi?”
” iniii…” anak menunjuk dadanya dan sudah lebih tenang.
“oh ya mama bantu usap2 boleh biar kakak merasa lebih nyaman dan enak?”
“iyaa..”
ibu mengusap2 dadanya.
setelah tenang
“mama penasaran, kakak pengen bisa roll ?”
“pengen mah”
“kira-kira biar bisa kakak ada ide apa?” (tidak mendrive tapi lebih mendengarkan)
“latian lagi..”
“ok sip, anak hebat!..nanti kalau udah istirahat kita latian yuk..bareng mama n papa, gimana?”
“ya mah..”
elus2 cium kening.
Untuk hubungan suami istri juga bisa. Mirip seperti contoh di atas.
Emosi sifatnya fluid, mengalir, e-motion atau energi yang mengalir. Mengenali emosi dengan benar dan mau menerima emosi bagian dari menyeimbangkan emosi itu sendiri. Yang akhirnya bisa mengendalikan emosi bukan menahan atau membiarkan hingga membuat tekanan batin dan respon yang merugikan. Dan hal tersebut adalah manfaat dari kemampuan kecerdasan emosi.
Semoga bermanfaat.
Have a nice day!
Salam berlimpah berkah.
Upika Bintang Terang
Long life learner

What\\\'s on Your Mind about this article?

Chanel Upika on Youtube